Kamis, 11 April 2013


TUGAS MATA KULIAH
KEBUTUHAN DASAR MANUSIA
GANGGUAN PADA TANDA-TANDA VITAL
DISUSUN OLEH :
NAMA :
VINI OKTALIANI SUDARMANTO
NIM :
1201021053
DOSEN PEMBIMBING :
SITI KHOLIFAH , S.Kep.,Ners

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JEMBER
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
PROGRAM STUDI D3 KEPERAWATAN
TAHUN AJARAN 2012-2013


KATA PENGANTAR

Puji syukur senantiasa kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberi rahmat dan kesehatan, sehingga penulisan makalah ini dapat terselesaikan.

Saat ini , perawat professional yang memberikan asuhan keperawatan daksanakanalam mel proses asuhan keperawatan secara komprehensif. Proses tersebut meliputi bio-psiko-sosio-kultural yang berbasis pada disiplin ilmu dalam ruang lingkup asuhan keperawatan yang mencakup pengenalan konsep anatomi dan fisiologi, patofisiologi penyakit, yang nantinya akan mengarah kepada terjadinya masalah keperawatan, pengkajian untuk menegakan masalah keperawatan, perencanaan dan implementasi tindakn keperawatan, serta evaluasi hasil asuhan keperawatan yang telah diberikan.

Penyusun membahas mengenai “Asuhan keperawatan pada gangguan TTV” ini bertujuan untuk memudahkan pembaca terutama para perawat professional dalam memahami asuhan keperawatan yang akan diberikan kepada pasien dengan gangguan TTV .

Untuk materi yang disajikan, penyusun mencoba menggabungakan beberapa konsep asuha keperawatan dari beberapa literature yang sesuai dengan konsep dasar asuhan keperawatan.

Pada kesempatan  ini, penyusun juga mengucapkan terima kasih sekaligus izinya kepada penulis buku yang telah dijadikan literatur dalam makalah ini, dimana bayak terdapat beberapa pemahaman dan tulisan yang penyusun kutip unutk menambah lengkapnya makalah ini.

Akhir kata, penyusun mengharapakan adanya masukan, kritik dan sarang yang membangun dalam bentuk apapun demi perbaikan makalah dimasa mendatang.





Jember, 2 November 2012




                                                                                                            Penyusun




DAFTAR ISI

COVER..............................................................................................................................i
KATA PENGANTAR.......................................................................................................ii
DAFTAR ISI....................................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN
1.1  Latar belakang..............................................................................................................1
1.2  Tujuan umum................................................................................................................1
1.3  Tujuan khusus...............................................................................................................1
1.4  Ruang lingkup penyusunan...........................................................................................1
1.5  Sistematika penyusunan................................................................................................1
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengukuran suhu...........................................................................................................3
       2.1.1 Tujuan tindakan...................................................................................................3
       2.1.2 Pengkajian...........................................................................................................3
       2.1.3 Diagnosa keperawatan........................................................................................5
       2.1.4 Perancanaan implementasi..................................................................................5
       2.1.5 Evaluasi...............................................................................................................5
3.1 Pemeriksaan denyut nadi...............................................................................................6
      3.1.1 Tujuan tindakan....................................................................................................6
      3.1.2 Pengkajian............................................................................................................6
      3.1.3 Diagnosa keperawatan.........................................................................................7
      3.1.4 Perencanaan implementasi...................................................................................7
      3.1.5 Evaluasi................................................................................................................7
4.1 Pemeriksaan pernafasan................................................................................................8
      4.1.1 Tujuan tindakan...................................................................................................8
      4.1.2 Pengkajian...........................................................................................................13
      4.1.3 Diagnosa keperawatan.........................................................................................13
      4.1.4 Perencanaan implementasi..................................................................................17
      4.1.5 Evaluasi...............................................................................................................17
5.1 Pengukuran tekanan darah...........................................................................................17
      5.1.1 Tujuan tindakan...................................................................................................18
      5.1.2 Pengkajian...........................................................................................................18
      5.1.3 Diagnosa keperawatan........................................................................................20
      5.1.4 Perencanaan........................................................................................................20
      5.1.5 Evaluasi...............................................................................................................21

BAB III PENUTUPAN
6.1 Kesimpulan...............................................................................................................22
   
7.1 Saran.........................................................................................................................22
DAFTAR PUSTAKA.....................................................................................................23























BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar belakang
Pemeriksaan tanda vital merupakan suatu cara untuk mendeteksi adanya perubahan sistem tubuh. Tanda vital meliputi suhu tubuh, denyut nadi, frekuensi pernapasan, dan tekanan darah. Tanda vital mempunyai nilai sangat penting pada fungsi tubuh. Adanya perubahan tanda vital, misalnya suhu tubuh dapat menunjukkan keadaan metabolisme dalam tubuh; denyut nadi dapat menunjukkan perubahan pada sistem kardiovaskular; frekuensi pernapasan dapat menunjukkan fungsi pernapasan; dan tekanan darah dapat menilai kemampuan sistem kardiovaskular, yang dapat dikaitkan dengan denyut nadi. Semua tanda vital tersebut saling berhubungan dan saling memengaruhi. Perubahan tanda vital dapat terjadi bila tubuh dalam kondisi aktivitas berat/dalam keadaan sakit dan perubahan tersebut merupakan indikator adanya gangguan sistem tubuh.
Pemeriksaan tanda vital yang dilaksanakan oleh perawat digunakan untuk memantau perkembangan pasien. Tindakan ini bukan hanya merupakan kegiatan rutin pada klien, tetapi merupakan tindakan pengawasan terhadap perubahan atau gangguan sistem tubuh. Pelaksanaan pemeriksaan tanda vital pada semua klien berbeda satu dengan yang lain. Tingkat kegawatan pasien seperti pada kondisi pasien yang kritis akan membutuhkan pengawasan terhadap tanda vital yang lebih ketat dibanding pada kondisi pasien yang tidak kritis demikian sebaliknya. Prosedur pemeriksaan tanda vital yang dilakukan pada pasien meliputi pengukuran suhu, pemeriksaan denyut nadi, pemeriksaan pernapasan, dan pengukuran tekanan darah.
1.2 Tujuan umum
      Memenuhi tugas kebutuhan dasar manusia dosen pembimbing dan dapat mengetahui   secara garis besar mengenai gangguan pada TTV (tanda-tanda vital) dan asuhan keperawatannya .

1.3Tujuan Khusus
      1.      Meningkatkan pengetahuan dan wawasan tentang konsep dasar pada gangguan TTV
      2.      Meningkatkan pengetahuan mengenai etiologi, patofisiologi, manifestasi klinis,  komplikasi, pemeriksaan diagnostik dan  penatalaksanaan yang harus dilakukan pada penderita gangguan TTV
       3.      Memberikan gambaran asuhan keperawatan secara teoritis kepada klien yang menderita gangguan TTV

1.4Ruang Lingkup Penyusunan
Dalam penyusunan makalah ini, penyusun menggunakan metode deskriftif yaitu dengan menggambarkan konsep dasar dari penyakit dan asuhan keperawatannya dengan literatur yang diperoleh dari buku-buku perpustakaan, dan  internet .



1.5 Sistematika Penyusunan
Penyusunan makalah ini terdiri dari III (tiga) bab yang disusun secara sistematis. Adapun sistematika penulisan sebagai berikut:
                      BAB I         :  Pendahuluan, yang terdiri dari latar belakang, tujuan penulisan, ruang lingkup        penulisan, metode penulisan dan sistematika penulisan.
                      BAB II       :  Pembahasan asuhan keperawatan, yang terdiri dari pengkajian, diagnosa keperawatan, rencana keperawatan, dan evaluasi.
                      BAB III      :  Penutup, yang terdiri dari kesimpulan dan saran.



BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengukuran Suhu
 Nilai hasil pemeriksaan suhu merupakan indikator untuk menilai keseimbangan antara pembentukan dan pengeluaran panas. Nilai ini akan menunjukkan peningkatan bila pengeluaran panas meningkat. Kondisi demikian dapat juga disebabkan oleh vasodilatasi, berkeringat, hiperventilasi dan lain-lain. Demikian sebaliknya, bila pembentukan panas meningkat maka nilai suhu tubuh akan menurun. Kondisi ini dapat dilihat pada peningkatan metabolisme dan kontraksi otot. Pengukuran suhu tubuh dapat dilakukan secara oral, rektal, dan aksila.
Tempat untuk mengukur suhu badan seseorang adalah:
  • Ketiak/ axilea, pada area ini termometer didiamkan sekitar 10 - 15 menit
  • Anus/ dubur/ rectal, pada area ini termometer didiamkan sekitar 3 - 5 menit
  • Mulut/oral, pada area ini termometer didiamkan sekitar 2 - 3 menit
Seseorang dikatakan bersuhu tubuh normal, jika suhu tubuhnya berada pada 36oC - 37,5oC Seseorang dikatakan bersuhu tubuh rendah (hypopirexia/hypopermia), jiak suhu tubuhnya < 36oC Seseorang dikatakan bersuhu tubuh tinggi/panas jika:
  • Demam : Jika bersuhu 37,5 oC - 38oC
  • Febris : Jika bersuhu 38oC - 39oC
  • Hypertermia : Jika bersuhu > 40oC
2.1.1 Tujuan tindakan
 Pengukuran suhu tubuh dilakukan untuk mengetahui rentang suhu tubuh.
2.1.2 Pengkajian
        
Anamnesa :
 Klien mengeluh batuk, Demam, terlihat pasien menggigil, napas cepat, suhu lebih dari 40̊ C, dan tidak nafsu makan dan penurunan berat badan.
 Riwayat penyakit :
a.       Saat ini
Pasien biasanya mempunyai riwayat penyakit 1-3 minggu dengan gejala demam dan menggigil serta adanya nyeri dada. Rendahnya nafsu makan klien dengan penurunan berat badan dan lemah badan.
Pengkajian Psiko-sosio-spiritual
            Klien biasanya mengalami kecemasan sesuai dengan keluhan yang dialaminya seperti demam yang merupakan stresor penting yang menyebabkan klien cemas. Perawat perlu memberikan dukungan moral dan memfasilitasi pemenuhan informasi dengan tim medis untuk pemenuhan informasi mengenai prognosis penyakit klien.
Pemeriksaan fisik:
a.       Keadaan umum dan TTV
Hasil pemeriksaan TTV pada klien dengan demam biasanya didapatkan peningkatan suhu lebih dari 40̊ C, frekuensi nafas meningkat dari normal, denyut nadi biasanya meningkat seirama dengan peningkatan suhu tubuh dan tekanan darah biasanya tidak bermasalah. Analisis data:
DS :
a.       klien mengeluh menggigil
b.       demam
c.      klien mengeluh kurang nafsu makan dan penurunan berat badan
DO :
d.      klien menggigil dengan suhu lebih dari 40̊ C
e.       adanya penurunan berat badan dan badan klien terlihat lemas
Sign atau Symton
Etiologi
Problem

DX : Klien datang kerumah sakit dengan keadaan menggigil
DS :
-          klien mengeluh demam
-        klien mengeluh kurang nafsu makan dan penurunan berat badan
DO :
-          klien menggigil dengan suhu lebih dari 40̊ C
-          adanya penurunan berat badan dan badan klien terlihat lemas

      Demam yang timbul dari suhu tubuh yang meningkat , sehinnga menyebabkan demam .


1.      Ketidakefektifan dalam perubahan suhu tubuh yang dialami klien .
2.       Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan peniungkatan metabolisme tubuh dan penurunan  nafsu makan sekunder tehadap demam.


2.1.3 Diagnosa keperawatan

 1.    Ketidakefektifan dalam perubahan suhu tubuh yang dialami klien .
2.      Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhab tubuh berhubungan dengan peniungkatan metabolisme tubug dan penurunan nafsu makan sekunder tehadap demam.



2.1.4  Perencanaan dan Implementasi

1. Ketidakefektifan dalam perubahan suhu yang dialami klien
Tujuan : dalam waktu 3 x 24 jam setelah diberikan penyuluhan kondisi kembali efektif
Kriteria hasil :
-          klien mampu melakukan hal efektif seperti sedia kala .
Rencana tindakan
Rasional
Respon hasil
1. Kaji fungsi suhu tubuh (menngunakan termometer oral,aksila, dan rectal)
2. Kaji kemmpuan klien dengan mendiagnosis
3. menanyakan keluhan yang dialami selama prosedur
- Penurunan nafsu makan.
- Penurunan kekuatan tubuh dan terasa lemas.
- Menggigil dan suhu tubuh berubah .
1. Tidak terjadi demam .
2. pasien dapat melakukan aktifitas efektif.
3. Kesehatan pasien berangsur pulih dan kebutuhan cairan terpenuhi.
4.tidak ada sumbatan keluhan menggigil.

2.1.5 Evaluasi

NO
EVALUASI
DX1




DX2




DX3




DX4
S = klien mampu melakukan aktifitas efektif
O= pernapasan normal RR 16-20x/menit.
A= terpenuhi
P=intervensi dihentikan.

S = Klien mengatakan sudah tidak demam lagi.
O= tidak ada keluhan menggigil.
A= terpenuhi
P=intervensi dihentikan

S = Klien mengatakan tubunya tidak terasa panas lagi
O = suhu tubuh klien normal (36-370C)
A = teratasi
P = intervensi dihentikan

S= Klien mengatakan dapat menghabiskan satu porsi makanan.
O= berat badan meningkat/normal dan tidak ada tanda mal nutrisi
A=terpenuhi
P=intervensi dihentikan
3.1 Pemeriksaan Denyut Nadi
Pemeriksaan denyut nadi merupakan indikator untuk menilai sistem kardiovaskular. Denyut nadi dapat diperiksa dengan mudah menggunakan jari tangan (palpasi) atau dapat juga dilakukan dengan alat elektronik yang sederhana maupun canggih. Pemeriksaan denyut nadi dapat dilakukan pada daerah arteri radialis pada pergelangan tangan, arteri brakhialis pada siku bagian dalam, arteri karotis pada leher, arteri temporalis, arteri femoralis, arteri dorsalis pedis, dan pada arteri frontalis pada bayi. Denyut nadi merupakan dorongan atau ketukan yang diakibatkan olehmengembangnya aorta yang mengahasilkan gelombang pada dinding aorta.Ada banyak sebab terjadinya perubahan kecepatan denyut jantung. Kecepatandenyut bereaksi terhadap rangsangan yang ditimbulkan oleh sistem saraf simpatis dan parasimpatis. Beberapa halyang memepengaruhi jumlah denyut: emosi, nyeri,aktivitas dan obat-obatan.
Jumlah denyut nadi yang normal berdasarkan usia seseorang adalah:
  • Bayi baru lahir : 140 kali per menit
  • Umur di bawah umur 1 bulan : 110 kali per menit
  • Umur 1 - 6 bulan : 130 kali per menit
  • Umur 6 - 12 bulan : 115 kali per menit
  • Umur 1 - 2 tahun : 110 kali per menit
  • Umur 2 - 6 tahun : 105 kali per menit
  • Umur 6 - 10 tahun : 95 kali per menit
  • Umur 10 - 14 tahun : 85 kali per menit
  • Umur 14 - 18 tahun : 82 kali per menit
  • Umur di atas 18 tahun : 60 - 100 kali per menit
  • Usia Lanjut : 60 -70 kali per menit
Jika jumlah denyut nadi di bawah kondisi normal, maka disebut pradicardi. Jika jumlah denyut nadi di atas kondisi normal, maka disebut tachicardi.
Tempat-tempat menghitung denyut nadi adalah:
  • Ateri radalis : Pada pergelangan tangan
  • Arteri temporalis : Pada tulang pelipis
  • Arteri caratis : Pada leher
  • Arteri femoralis : Pada lipatan paha
  • Arteri dorsalis pedis : Pada punggung kaki
  • Arteri politela : pada lipatan lutut
  • Arteri bracialis : Pada lipatan siku
  • Ictus cordis : pada dinding iga, 5 - 7


3.1.1  Tujuan
  1. Mengetahui denyut nadi (irama, frekuensi, dan kekuatan).
  2. Menilai kemampuan fungsi kardiovaskular.


3.1.2 Pengkajian
         Mengetahui jumlah denyut nadi klien  pada arteri dalam keadaan fisik menurun .
 Pemeriksaan fisik:
a.       Keadaan umum dan TTV
Hasil pemeriksaan TTV pada klien dibawah normal atau  pradicardi  pada umur 18 tahun 75 kali per menit .
Analisis data:
DS :
a.       klien mengeluh adanya perubahan penurunan fisik pada tubuhnya .
DO :
d.      klien bersuhu lebih dari 40̊ C
e.       adanya penurunan berat badan dan badan klien terlihat lemas
Sign atau Symton
Etiologi
Problem

DX : Klien datang kerumah sakit dengan keadaan bersuhu tinngi
DS :
-        klien mengeluh kurang nafsu makan dan penurunan berat badan
DO :
-          klien bersuhu lebih dari 40̊ C
-          adanya penurunan berat badan dan badan klien terlihat lemas

      Penurunan fisik yang melemah yang timbul dari adanya gejala yang tidak diketahui klien .


1.      Ketidakefektifan dalam perubahan suhu tubuh yang dialami klien .
2.       Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan peningkatan metabolisme tubuh dan penurunan  nafsu makan.
3.      Penurunan tingkat kestabilan tubuh .

3.1.3 Diagnosa keperawatan

 1.    Ketidakefektifan dalam perubahan denyut nadi yang menurun .
2.      Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan peningkatan metabolisme tubuh dan penurunan nafsu makan .
3.    Penurunan tingkat kestabilan tubuh

3.1.4  Perencanaan dan Implementasi

1. Ketidakefektifan dalam perubahan suhu yang dialami klien
Tujuan : dalam waktu 3 x 24 jam setelah diberikan penyuluhan kondisi kembali efektif dan denyut nadi kembali normal .
Kriteria hasil :
-          klien mampu melakukan hal efektif seperti sedia kala dan aktifitas lancar  .
Rencana tindakan
Rasional
Respon hasil
1. Kaji fungsi suhu tubuh (menngunakan termometer oral,aksila, dan rectal)
2. Kaji kemmpuan klien dengan mendiagnosis
3. menanyakan keluhan yang dialami selama prosedur
4. memeriksa denyut kerja nadi .
- Penurunan nafsu makan.
- Penurunan kekuatan tubuh dan terasa lemas.
- tingkat kekuatan nadi menurun .
1. Tidak terjadi demam .
2. pasien dapat melakukan aktifitas efektif.
3. Kesehatan pasien berangsur pulih dan kebutuhan cairan terpenuhi.
4. denyut nadi kembali pulih menjadi 82 kali permenit .

3.1.5 Evaluasi

NO
EVALUASI
DX1




DX2




DX3


S = klien mampu melakukan aktifitas efektif
O= detak denyut nadi normal 82x/menit.
A= terpenuhi
P=intervensi dihentikan.

S = Klien mengatakan sudah tidak keluhan  lagi.
O= tidak ada keluhan pada kondisi fisik.
A= terpenuhi
P=intervensi dihentikan

S= Klien mengatakan dapat menghabiskan satu porsi makanan.
O= berat badan meningkat/normal dan tidak ada tanda mal nutrisi
A=terpenuhi
P=intervensi dihentikan



4.1 Pemeriksaan Pernapasan
Nilai pemeriksaan pernapasan merupakan salah satu indikator untuk mengetahui fungsi sistem pernapasan yang terdiri dari mempertahankan pertukaran oksigen dan karbon dioksida dalam paru dan pengaturan keseimbangan asam basa.
PERNAPASAN
Pola pernapasan adalah:
  • Pernapasan normal (euphea)
  • Pernapasan cepat (tachypnea)
  • Pernapasan lambat (bradypnea)
  • Sulit/sukar bernapas (oypnea) Jumlah pernapasan seseorang adalah:
  • Bayi : 30 - 40 kali per menit
  • Anak : 20 - 50 kali per menit
  • Dewasa : 16 - 24 kali per menit
4.1.1 Tujuan
  1. Mengetahui frekuensi, irama, dan kedalaman pernapasan.
2.      Menilai kemampuan fungsi pernapasan.

      4.1.2   Pengkajian

Anamnesa :
 Klien mengeluh batuk, Demam, Sesak napas,  Seputum supuren dan berbau, terlihat pasien menggigil, napas cepat, suhu lebih dari 40̊ C, dan tidak nafsu makan dan penurunan berat badan.
Riwayat penyakit :
a.       Saat ini
Pasien biasanya mempunyai riwayat penyakit 1-3 minggu dengan gejala demam dan menggigil serta adanya nyeri dada. Rendahnya nafsu makan klien dengan penurunan berat badan dan lemah badan.
b.      Penyakit dahulu
Adanya keluhan malaise, penurunan berat badan, panas badan yang ringan, dan batuk yang produktif. Adanya riwayat penurunan kesadaran berkaitan dengan sedasi, terauma, dan serangan epilepsi. Riwayat penyalahgunaan obat yang mungkin teraspirasi asam lambung saat berada dalam keadaan tidak sadar atau adanya emboli bakteri di paru akibat suntikan obat.
Pengkajian Psiko-sosio-spiritual
            Klien biasanya mengalami kecemasan sesuai dengan keluhan yang dialaminya seperti batuk, sesak napas, dan demam yang merupakan stresor penting yang menyebabkan klien cemas. Perawat perlu memberikan dukungan moral dan memfasilitasi pemenuhan informasi dengan tim medis untuk pemenuhan informasi mengenai prognosis penyakit klien.
Pemeriksaan fisik:
a.       Keadaan umum dan TTV
Hasil pemeriksaan TTV pada klien dengan abses paru biasanya didapatkan peningkatan suhu lebih dari 40̊ C, frekuensi nafas meningkat dari normal, denyut nadi biasanya meningkat seirama dengan peningkatan suhu tubuh dan frekuensi pernafasan, tekanan darah biasanya tidak bermasalah.

b.      IPPA
-          Inspeksi :
Pergerakan pernafasan menurun, tampak sesak nafas dan kelelahan. Bentuk dada biasanya tidak mengalami perubahan. Gerakan pernapasan asimetris di sisi paru yang mengalami lesi, gerakan pernapasannya akan tertinggal sesuai dengan banyaknya pus yang terakumulasi di paru. Ritme pernapasan cepat dan dangkal. Batuk dan sputum. Klien mengalami batuk yang produktif dengan sputum banyak dan berbau busuk, purulen berwarna kuning kehijauan sampai hitam kecoklatan karena bercampur darah, atau kadang-kadang batuk dengan darah dalam jumlah yang banyak.
-          Palpasi :
Taktil fremitus pada klien dengan abses paru biasanya normal. Perbedaan penurunan fremitus ditemukan apabila terjadi akumulasi pus. Adanya fremitus raba yang meningkat di daerah yang terinfeksi panas badan yang meningkat diatas normal, takikardi, naiknya tekanan vena jugularis (JVP), sesak nafas.
-          Perkusi
Saat dilakukan perkusi, didapatkan bunyi redup pada sisi paru yang terkena.
-          Auskultasi
Pada daerah sakit terdengar suara nafas bronkhial disertai suara tambahan kasar sampai halus. Jika abses terisi penuh dengan cairan pus akibat drainase yang buruk, suara nafas melemah dan jika bronkhus paten dan drainase baik ditambah adanya konsolidasi di sekitar abses akan terdengar suara nafas bronkhial dan ronkhi basah.
c.       Pemeriksaan B6
-          B1 (Breathing)
a.       Ketidakefektifan pola napas
b.      Gangguan pertukaran gas
c.       Ketidakefektifan bersihan jalan napas b.d penumpukan sekret
-          B2 (Blood)
Denyut nadi takikardi dan tekanan darah biasanya normal. Tidak terdapat bunyi jantung tambahan.
-          B3 (Brain)
Tingkat kesadaran pasien biasanya compos mentis jika tidak disertai komplikasi penyakit yang serius.
-          B4 (Bladder)
Pengukuran volume output urine berhubungan erat dengan intake cairan. Oleh karena itu, perawat perlu memonitor adanya oliguria yang merupakan tanda awal dari syok.
-          B5 (Bowel)
Klien biasa sering mengalami mual dan muntah, penurunan nafsu makan, dan penurunan berat badan. Hasil pemeriksaan rongga mulut sering menunjukkan keadaan oral higiene yang buruk dengan karies gigi, ginggivitis, periodontitis, dan keadaan lain yang meningkatkan jumlah bakteri anaerob di rongga mulut.
-          B6 (Bone)
Kelemahan dan kelelahan fisik secara umum sering menyebabkan klien memerlukan bantuan orang lain untuk memenuhi kebutuhan aktivitas sehari-hari.

Pemeriksaan penunjang
a.       Pemeriksaan Radiologis
-          Pada fase permulaan, biasanya terlihat gambaran pneumonia dan kemudian akan tampak daerah radiolusen dalam bayangan infiltrat yang padat dengan batas permukaan udara cairan (air fluid level) didalamnya yang menunjukkan adanya drainase yang tidak sempurna. Tetapi bila tidak ada hubungan maka hanya dijumpai tanda-tanda konsolidasi (opasitas).
-          Pada foto thorak terdapat kavitas dengan dinding tebal dengan tanda-tanda konsolidasi disekelilingnya. Kavitas ini bisa multipel atau tunggal dengan ukuran f 2 – 20 cm. Gambaran ini sering dijumpai pada paru kanan lebih dari paru kiri. Bila terdapat hubungan dengan bronkus maka didalam kavitas terdapat Air fluid level. Tetapi bila tidak ada hubungan maka hanya dijumpai tanda-tanda konsolidasi. Sedangkan gambaran khas CT-Scan abses paru ialah berupa Lesi dens bundar dengan kavitas berdinding tebal tidak teratur dan terletak di daerah jaringan paru yang rusak. Tampak bronkus dan pembuluh darah paru berakhir secara mendadak pada dinding abses, tidak tertekan atau berpindah letak. Sisa-sisa pembuluh darah paru dan bronkhus yang berada dalam abses dapat terlihat dengan CT-Scan, juga sisa-sisa jaringan paru dapat ditemukan di dalam rongga abses. Lokalisasi abses paru umumnya 75% berada di lobus bawah paru kanan bawah.

b.      Pemeriksaan laboratorium
-          Hasil pemeriksaan biasanya menunjukkan adanya leukosit terutama polimorfonuklear dengan pergeseran kekiri. Kadang-kadang jumlah leukosit dapat mencapai 20.000-30.000/mm3. Laju endap darah ditemukan meningkat > 58 mm / 1 jam.
-          Sputum diperiksa dengan pengecatan gram tahan asam dan KOH merupakan pemeriksaan awal untuk menentukan pemilihan antibiotik secara tepat dengan cara makroskopis, bau dan warna sputum, serta pemeriksaan mikroskopis untuk identifikasi organisme, pewarnaan gramnuntuk pemeriksaan bakteri tahan asam, dan biakan untuk jamur serta biakan mikroorganisme aerob dan anaerob.
-          Pemeriksaan kultur bakteri dan test kepekaan antibiotika merupakan cara terbaik dalam menegakkan diagnosa klinis dan etiologis serta tujuan therapi.
-          Besar kavitas biasanya sekitar 4-5 cm dan paling sering terletak di segmen posterior lobus atas kanan. Letak abses dapat timbul di tempat lain bergantung pada posisi klien saat aspirasi dan dapat mengenai lebih dari satu segmen.
-          Pemeriksaan AGD menunjukkan penurunan angka tekanan O2 dalam darah arteri.
c.       Bronkoskopi
Fungsi Bronkoskopi selain diagnostik juga untuk melakukan therapi drainase bila kavitas tidak berhubungan dengan bronkus.
Analisis data:
DS :
a.       klien mengeluh sesak napas
b.      batuk
c.       demam
d.      klien mengeluh kurang nafsu makan dan penurunan berat badan

DO :
a.       terlihat napas klien cepat
b.      terlihat klien tidak berhenti batuk (batuk produktif)
c.       adanya seputum supuren dan berbau
d.      klien menggigil dengan suhu lebih dari 40̊ C
e.       adanya penurunan berat badan dan badan klien terlihat lemas
f.       danya suara bronkhial dan suara ronkhi basah
Sign atau Symton
Etiologi
Problem

DX : Klien datang kerumah sakit dengan keadaan menggigil disertai batuk dan sesak nafas
DS :
-          aklien mengeluh sesak napas
-          mengeluh batuk
-          demam
-          klien mengeluh kurang nafsu makan dan penurunan berat badan
DO :
-          terlihat napas klien cepat
-          terlihat klien tidak berhenti batuk (batuk produktif)
-          adanya seputum supuren dan berbau
-          klien menggigil dengan suhu lebih dari 40̊ C
-          adanya penurunan berat badan dan badan klien terlihat lemas
-          adanya suara bronkhial dan suara ronkhi basah

1.      Infeksi yang timbul dari saluran nafas (aspirasi)
2.      Sebagai penyulit dari beberapa tipe pneumonia tertentu
3.      Perluasan abses subdiafragmatika
4.      Berasal dari luka traumatik paru
5.      Infark paru yang terinfeksi


1.      Ketidakefektifan bersihan jalan napas yang berhubungan dengan sekresi mukus yang kental, kelemahan, upaya batuk buruk, edema trakheal/faringeal.
2.      Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan abses paru.
3.      Hipertermi.
4.      Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhab tubuh berhubungan dengan peniungkatan metabolisme tubug dan penurunan nafsu makan sekunder tehadap demam.
5.      Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kerusakan pertukaran gas sekunder tehadap abses paru.
6.      Cemas berhubungan dengan kondisi sakit, prognosis penyakit yang berat.
7.      Kurangnya pemenuhan informasi berhubungan dengan ketidakjelasan sumber informasi.

4.1.3  Diagnosa keperawatan

1.      Ketidakefektifan bersihan jalan napas yang berhubungan dengan sekresi mukus yang kental, kelemahan, upaya batuk buruk, edema trakheal/faringeal.
2.      Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan abses paru.
3.      Hipertermi.
4.      Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhab tubuh berhubungan dengan peniungkatan metabolisme tubug dan penurunan nafsu makan sekunder tehadap demam.


4.1.4  Perencanaan dan Implementasi

1. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas yang berhubungan dengan sekresi mukus yang kental,kelemahan,upaya batuk buruk,edema trakheal/faringeal
Tujuan : dalam waktu 3 x 24 jam setelah diberikan intervensi kebersihan jalan nafas kembali efektif
Kriteria hasil :
-          Klien mamapu melakukan batuk efektif
-           pernafasan klien normal 16-20x/menit tanpa adanya otot bantu nafas, bunyi nafas normal, pergerakan nafas normal
Rencana tindakan
Rasional
Respon hasil
1. Kaji fungsi pernafasan ( bunyi  nafas, kecepatan , irama, kedalaman, dan penggunaan otot bantu pernafasan )
2. Kaji kemmpuan klien mengeluarkan sekresi. Lalu catat karakter dan volume sputum dan adanya hemoptisis

3. memberikan posisi fowler/semi fowler tinggi dan bantu klien berlatih napas dalam dan batuk efektif.
4. Mempertahankan intake cairan sedikitnya 2500 ml/hari kecuali tidak diindikasikan
5. Membersihkan sekret dari mulut dan trakea, bila perlu lakukan pengisapan (suction)
- Penurunan bunyi nafas menujukan atelektasis, ronchi menunjukan akumulasi sekret dan ketidakefektifan pengeluaran  sekresi yang selanjutnya dapat menimbulkan penggunaan otot bantu nafas dan peningkatan kerja pernafasan.
- Penge luaran sulit bila sekret kental ( efek infeksi dan hidrasi yang tidak adekuat).sputum
Posisi fowler memaksimalkan ekspansi paru dan menunrunkan upaya bernafas.ventilasi maksimal membuka area atelektasis dan meningkatakan  gerakan sekret kejalan nafas besar untuk dikeluarkan.
Hidrasi yang adekuat dapat membantu mengencerkan sektret dan mengefektifkan pembersihan jalan nafas.
Mencegah obstruksi dan aspirasi.penghisapan dilakukan bila klien tidak dapat mengeluarkan sekret.eliminasi lendir dengan suction sebaiknya dilakuakn dalam janggka waktu kurang dari 10 menit dengan pengawasan efek samping suction.
1. Tidak terdengar bunyi ronkhi
2. pasien dapat melakukan batuk efektif.

3.melancarkan sirkulasi pernapasan.

4.      Kesehatan pasien berangsur pulih dan kebutuhan cairan terpenuhi.


 5.tidak ada sumbatan jalan napas.

2. Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan abses paru
Tujuan : dalam waktu 2 x 24 jam setelah diberikan gangguan pertukaran gas tidak terjadi
Kriteria evaluasi :
Melaporkan tak adanya atau penurunan dispnue
Klien menunjukan tidak ada gejala distress pernafasan
Menunjukan prbaikan ventilasi dan oksigen jarimgan adekuat dengan gas darah arteri dalam rentang normal.
Rencana tindakan
Rasional
Respon hasil
1. Kaji dispnue,takipnue, bunyi nafas ,peningkatan upaya pernfasan ,ekspansi torak dan kelemahan
2. Ajarkan dana dukung pernafasan bibir selama ekspirasi khususnya untuk klien dengan fibrosis dan kerusakan parenkim paru.
3. Pemberian oksigen sesuai kebutuhan tambahan
4. Kortikosteroid
Abses paru mengakibatkan efek luas pada paru ,inflamsi yang luas, nekrosis dan fibrosis yang luas efeknya terhadap pernafasan berpariasi dari gejala ringan dispnue berat dan distres pernafasan.

Membuat tahanan melawan udara luar untuk mencegah kolap atau penyempiatan jalan nafas sehingga membantu menyebarkan udara melalui paru da mengurangi nafas pendek

Terapi oksigen dapat mengoreksi hipoksemia yang terjadi akibat penurunan ventilasi atau menurunnya permukaan alveolar paru

Kortikosteroid berguna pada keterlibatan luas dan hipoksemia dan bila reaksi inflamasi mengancam kehidupan
TTV normal.

sirkulasi pernapasan lancar, nafas pendek tidak ada lagi

Hipoksemia teratasi
Tidak terjadi

komplikasi pada organ lain

3. Hipertermi yang berhubungan dengan reaksi sistemis : bakterimia/viremia, peningkatan laju metabolisme umum
Batasan karakteristik : foto rontgen thorak menunjukan adanya pleuritis, suhu di atas 370 C ,diaphoresis, intermiten, leukosit diatas 10.000/mm3, dan kultur sputum positif
Kriteria evaluasi : suhu tubuh normal (36-370C)
Rencana tindakan
Rasional
Respon hasil
1. Kaji saat timbulnya demam
2. Kaji tanda-tanda vital setipa 3 jam atau lebih sering
3. Berikan kebutuhan cairan ekstra
4. Berikan tindakan untuk memberikan rasa nyaman seperti mengelap bagian punggung klien, mengganti alat tenun yang kering setelah diaphoresis, memberi minum hangat, lingkungan yang tenang dengan cahaya yang redup, dan sedative ringan jika dianjurkan serta memberikan pelembap pada kulit dan bibir
5. Berikan terapi cairan IV RL 0,5 dan pemberian antipiretik
6. Berikan antibiotic sesuai dengna anjuran dan evaluasi keefektifannya. Tinjau kembali semua obat-obatan yang diberikan. Untuk menghindari efek merugikan akibat interaksi obat, jadwalkan pemberian obat dalam kadar darah yang konsisten.
Mengidentifikasi pola demam
Acuam untuk mengetahui keadaan umum klien

Peningkatan suhu tubuh mengakibatkan penguapan cairan tubuh meningkat, sehingga perlu
diimbangi dengan intake cairan yang banyak.

Tindakan tersebut meningkatkan relaksasi. Pelembap membantu mencegah kekeringan dan pecah-pecah di mulut dan bibir.

Pemberian cairan sangat penting bgi klien dengan suhu tinggi. Pemberian cairan merupakan wewenang dokter, sehingga perawat perlu berkolaborasi dalam hal ini.
Antibiotic diperlukan untuk mengatasi infeksi. Efek terapeutik maksimum yang efektif dapt dicapai, jika kadar obat yang ada dalam darah telah konsisten dan dapat dipertahankan. Risiko akibat interaksi obat-obatan yang diberikan meningkat dengan adanya efek farmakterapi berganda. Efek samping akibat interaksi satu obat dengan yang lainya dapat mengurangi keefektifan pengobatan dari salah satu obat atau keduanya

-          Demam teratasi

-           TTV normal


-           suhu tubuh normal

-           klien merasa nyaman

-          suhu tubuh normal


-          tidak terjadi infeksi


4. Perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan peningkatan metabolisme tubuh dan penurunan nafsu makan sekunder terhadap demam
Batasan karakteristik : mengatakan anoreksia, makan kurang 40% darui seharusnya penurunan BB dan mengeluh lemah
Batasan karakteristik : mengatakan anoreksia, makan kurang 40% darui seharusnya penurunan BB dan mengeluh lemah
Rencana tindakan
Rasional
Respon hasil
1. Pantau :  persentase jumlah makanan yg dikonsumsi setiap kali makan, timbang BB tiap hari, hasil pemeriksaan protein total albumin, dan osmolitas
2. Berikan perawatan mulut tiap 4 jam jika sputum berbau busuk. Pertahankan kesegaran ruangan.
3. Berikan perawatan mulut tiap  4  jam jika sputum berbau busuk. Pertahankan kesegaran ruangan.
4. Rujuk kepada ahli diet untuk membantu memilih makanan yg dapat memenuhi kebutuhan gizi selama sakit panas.
5. Berikan makanan dengan porsi sedikit tapi sering dan mudah dikunyah jika ada sesak napas berat.
Menidentifikasi kemajuan atau penyimpangan dari sasaran yang diharapkan

Bau yang tidak meyenangakan dapat mempengaruhi nafsu makan

Peningkatan suhu tubuh meningkatkan metabolisme, intake protein, vitamin, mieral, dan kalori yang adekuat penting untuk aktivitas anabolic dan sistesis antibody

Ahli diet ialah spesialisasi dalam ilmu gizi yang dapat membantu klien memilih makanan yang memenuhi kebutuhan kalori dan kebutuhan gizi sesuai dengan keadaan sakitnya, usia, tinggi, dan berat badan

Makanan porsi sedikti tapi sering memerlukan lebih sedikit energy.
klien mampu menkonsumsi makanan sesuai dengan indikasi,

klien merasa nyaman

intake nutrisi terpenuhi

penyerapan nutrisi teratur

Klien dapat menghabiskan porsi makanan yang di sajikan




4. 1.5 Evaluasi

NO
EVALUASI
DX1




DX2




DX3




DX4
S = klien mampu melakukan batuk efek efektif dan napas dalam
O= pernapasan normal RR 16-20x/menit.
A= terpenuhi
P=intervensi dihentikan.

S = Klien mengatakan sudah tidak sesak napas lagi.
O= tidak ada tarikan dinding dada.
A= terpenuhi
P=intervensi dihentikan

S = Klien mengatakan tubunya tidak terasa panas lagi
O = suhu tubuh klien normal (36-370C)
A = teratasi
P = intervensi dihentikan

S= Klien mengatakan dapat menghabiskan satu porsi makanan.
O= berat badan meningkat/normal dan tidak ada tanda mal nutrisi
A=terpenuhi
P=intervensi dihentikan
5.1 Pemeriksaan Tekanan Darah
 Nilai tekanan darah merupakan indikator untuk menilai sistem kardiovaskular bersamaan dengan pemeriksaan nadi. Pemeriksaan tekanan darah dapat diukur dengan dua metode, yaitu metode langsung: metode yang menggunakan kanula atau jarum yang dimasukkan ke dalam pembuluh darah yang dihubungkan dengan manometer. Metode ini merupakan cara yang paling tepat untuk menentukan tekanan darah, tetapi memer¬lukan persyaratan dan keahlian khusus; metode tak langsung: metode yang menggunakan sfig¬momanometer. Pengukuran tak langsung ini menggunakan dua cara, yaitu palpasi yang meng¬ukur tekanan sistolik dan auskultasi yang dapat mengukur tekanan sistolik dan diastolik dan cara ini memerlukan alat stetoskop.
TEKANAN DARAH
Jumlah tekanan darah yang normal berdasarkan usia seseorang adalah:
  • Bayi usia di bawah 1 bulan : 85/15 mmHg
  • Usia 1 - 6 bulan : 90/60 mmHg
  • Usia 6 - 12 bulan : 96/65 mmHg
  • Usia 1 - 4 tahun : 99/65 mmHg
  • Usia 4 - 6 tahun : 160/60 mmHg
  • Usia 6 - 8 tahun : 185/60 mmHg
  • Usia 8 - 10 tahun : 110/60 mmHg
  • Usia 10 - 12 tahun : 115/60 mmHg
  • Usia 12 - 14 tahun : 118/60 mmHg
  • Usia 14 - 16 tahun : 120/65 mmHg
  • Usia 16 tahun ke atas : 130/75 mmHg
  • Usia lanjut : 130-139/85-89 mmHg
5.1.1 Tujuan Mengetahui nilai tekanan darah.
            1. Mengetahui frekuensi tekanan darah pada anemia dengan lansia
            2. Menilai kemampuan jemlah tekanan darah pada anemia dengan lansia
5.1.2 Pengkajian
1. Definisi anemia
Seseorang dikatakan menderita anemia apabila konsentrasi hemoglobin pada orang tersebut lebih rendah dari nilai normal hemoglobin yang sesuai dengan jenis kelamin dan umur dari orang tersebut. Oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO: World Health Organization) telah ditetapkan batasan anemia yaitu untuk wanita apabilah konsentrasi hemoglobinnya di bawah 12 gr/dL (7,5 mmol/L) dan untuk pria apabila konsentrasi hemoglobinnya di bawah 13 gr / dL (8,1 mmol / L).
2. Klasifikasi anemia
Untuk yang 2 ada 4 bagian yaitu :                                          
a. Klasifikasi anemia berdasarkan morfologi eritrosit
Anemia berdasarkan morfologi eritrosit dibagi atas: mikrositik–hipokromik (MCV < 80 fl, MCHC < 30 g/l), normositik–normokromik (MCV 80–100 fl, MCHC 30 – 35 g/l) dan makrositik–normokromik (MCV > 100 fl, MCHC > 35 g/l).
 





Keterangan:
MCV : Volume korpuskuler rata–rata
MCHC : Konsentrasi hemoglobin korpuskuler rata–rata

b. Klasifikasi anemia berdasarkan berat–ringan
Anemia berdasarkan berat ringannya dibagi atas 3 tingkatan yaitu ringan, sedang, dan berat.
 


c. Mekanisme terjadinya anemia
Ada beberapa mekanisme untuk terjadinya anemia, yaitu:
  1. Kehilangan darah, misalnya perdarahan,
  2. Menurunnya umur hidup sel darah merah (eritrosit), misalnya anemia hemolitik,
  3. Kelainan pada pembentukan sel darah merah (eritrosit), misalnya kelainan sintesis hemoglobin,
  4. Berkumpul dan dihancurkannya eritrosit di dalam limpa yang membesar,
  5. Meningkatnya volume plasma, misalnya kehamilan, splenomegali.
Adapun tanda dan gejala anemia yang dijumpai berdasarkan berat–ringannya anemia adalah sebagai berikut:
 






e. Hubungan anemia dengan lansia
Anemia merupakan salah satu gejala sekunder dari sesuatu penyakit pada lansia. Anemia sering dijumpai pada lansia dan meningkatnya insidensi anemia dihubungkan dengan bertambahnya usia telah menimbulkan spekulasi bahwa penurunan hemoglobin kemungkinan merupakan konsekuensi dari pertambahan usia. Tetapi ada 2 alasan untuk mempertimbangkan bahwa anemia pada lansia merupakan tanda dari adanya penyakit, yaitu:
  • Kebanyakan orang–orang lansia mempunyai jumlah sel darah merah normal, demikian juga dengan hemoglobin dan hematokritnya,
  • Kebanyakan pasien – pasien lansia yang menderita anemia dengan hemoglobin < 12 gr / dL, penyakit dasarnya telah diketahui.
Prevalensi anemia pada lansia adalah sekitar 8–44%, dengan prevalensi tertinggi pada laki–laki usia 85 tahun atau lebih. Dari beberapa hasil studi lainnya dilaporkan bahwa prevalensi anemia pada laki–laki lansia adalah 27–40% dan wanita lansia sekitar 16–21%.
Sebagai penyebab tersering anemia pada orang–orang lansia adalah anemia penyakit kronik dengan prevalensinya sekitar 35%, diikuti oleh anemia defisiensi besi sekitar 15%. Penyebab lainnya yaitu defisiensi vitamin B12, defisiensi asam folat, perdarahan saluran cerna dan sindroma mielodisplastik.
Meningkatnya perasaan lemah, lelah dan adanya anemia ringan janganlah dianggap hanya sebagai manifestasi dari pertambahan usia. Oleh karena keluhan-keluhan tersebut di atas merupakan gejala telah terjadinya anemia pada lansia. Selain gejala–gejala tersebut di atas, palpitasi, angina dan klaudikasio intermiten juga akan muncul oleh karena biasanya pada lansia telah terjadi kelainan arterial degeneratif. Muka pucat dan konjungtiva pucat merupakan tanda yang dapat dipercayai bahwa seorang lansia itu sebenarnya telah menderita anemia.
Pada lansia penderita anemia berbagai penyakit lebih mudah timbul dan penyembuhan penyakit akan semakin lama. Yang mana ini nantinya akan membawa dampak yang buruk kepada orang–orang lansia. Dari suatu hasil studi dilaporkan bahwa laki–laki lansia yang menderita anemia, resiko kematiannya lebih besar dibandingkan wanita lansia yang menderita anemia. Juga dilaporkan bahwa lansia yang menderita anemia oleh karena penyakit infeksi mempunyai resiko kematian lebih tinggi.
Penelusuran diagnosis anemia pada lansia memerlukan pertimbangan klinis tersendiri. Dari evaluasi epidemiologis menunjukkan walaupun telah dilakukan pemeriksaan yang mendalam, ternyata masih tetap ada sekitar 15–25% pasien anemia pada lansia yang tidak terdeteksi penyebab anemianya.
4.1.3  Diagnosa keperawatan

Manifestasi gejala dan keluhan anemia tergantung dari beberapa faktor antara lain:
  1. Penurunan kapasitas daya angkut oksigen dari darah serta kecepatan dari penurunannya,
  2. Derajat serta kecepatan perubahan dari volume darah,
  3. Penyakit dasar penyebab anemianya,
  4. Kapasitas kompensasi sistem kardiopulmonal.





4.1.4  Perencanaan dan Implementasi

1. Penurunan kapasitas daya angkut oksigen dari darah serta kecepatan dari penurunannya
Tujuan : dalam waktu 1x24 jam tekanan darah pada lansia kembali normal
Kriteria hasil :
Tekanan darah klien kembalai normal Usia lanjut : 130-139/85-89 mmHg
Rencana tindakan
Rasional
Respon hasil
1. Kaji tekanan darah pasien dengan menggunakan shpygmomanometer

2. Kaji aspek keluhan yang diderita klien

3. Berikan kebutuhan cairan khusus pada klien
- menurunnya umur hidup sel darah merah (eritrosit)

- kurangnya vitamin yang dikonsumsi

- menurunnya hemoglobin

- tekanan darah kurang dari normal
1. Tekanan darah kembali normal .

2.tidak terjadi kelelahan seperti yang dialami sebelumnya selama keluhan anemia berlangsung

3.tekanan hemoglobin kembali normal

4.plasma darah kembalai lancar

5. tekanan darah 130-139/85-89 mmHg


4.1.5 Evaluasi

NO
EVALUASI
DX1




DX2




DX3



S = tekanan darah klien kembali seimbang
O= tekanan darah normal 130-139/85-89 mmHg
A= terpenuhi
P=intervensi dihentikan.

S = Klien mengatakan sudah tidak pusing lagi.
O= tidak ada keluhan pusing.
A= terpenuhi
P=intervensi dihentikan

S = Klien mengatakan tubunya berstamina
O = suhu tubuh klien normal (36-370C)
A = teratasi
P = intervensi dihentikan



BAB III
PENUTUPAN

6.1 Kesimpulan
 Tanda vital mempunyai nilai sangat penting pada fungsi tubuh. Adanya perubahan tanda vital, misalnya suhu tubuh dapat menunjukkan keadaan metabolisme dalam tubuh; Denyut nadi dapat menunjukkan perubahan pada sistem kardiovaskuler; Frekuensi pernafasan dapat menunjukkan fungsi pernafasan; dan Tekanan darah dapat menilai kemampuan sistem kardiovaskuler yang dapat dikaitkan dengan denyut nadi.
Semua tanda vital tersebut saling berhubungan dan mempengaruhi. Perubahan tanda vital dapat terjadi bila tubuh dalam dalam kondisi aktivitas berat atau dalam keadaan sakit dan perubahan tersebut merupakan indikator adanya gangguan sistem tubuh
Pemeriksaan tanda vital yang dilaksanakan oleh perawat digunakan untuk memantau perkembangan pasien. Tindakan ini bukan hanya merupakan kegiatan rutin pada klien, akan tetapi merupakan tindakan pengawasan terhadap perubahan atau gangguan sistem tubuh.
Pelaksanaan pemeriksaan tanda vital pada semua klien berbeda satu dengan yang lain. Tingkat kegawatan pasien seperti pada kondisi pasien kritis akan membutuhkan pengawasan terhadap tanda vital yang lebih ketat dibanding pada kondisi pasien yang tidak kritis, demikian sebaliknya.
Prosedur pemeriksaan tanda vital yang dilakukan pada pasien meliputi pengukuran suhu, pemeriksaan denyut nadi, pemeriksaan pernafasan, dan pengukuran tekanan darah.
       7.1 Saran

Kepada tim kesehatan, terutama perawat diharpakan untuk lebih mencermati keadaan pasien sebelum dan sesudah melakukan tindakan. Kesalahan kecil, dapat berimbas kepada kesalahan-kesalahan yang lain.
Memperluas wawasan mengenai konsep asuhan keperawatan yang tepat terhadap berbagai penyakit, dalam hal ini penyakit yang menyerang gangguan pada TTV, menjadi hal yang wajib untuk diketahui dan dilakukan oleh perawat professional.


DAFTAR PUSTAKA

Muttaqin, Arif. 2008. Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Tanda-Tanda Vital. Jakarta : Salemba Medika.

Dr. Ikawati, Zullies,Apt. 2009. Farmakoterapi Penyakit Sistem pernfasan. Yogyakarta : Pustaka Adipura.

Somantri, Irman.2008.Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Gangguan pada TTV.Jakarta:Salemba Medika.


http://belajarsukes.blogspot.com/2011/03/asuhan-keperawatan-klien-dengan.html
Soeparman & Waspadji, 1990, Ilmu Penyakit Dalam, Jilid I, Ed. Ke-3, BP FKUI, Jakarta.





Tidak ada komentar: